Gonjang-ganjing masalah per-SUSU-an lagi marak di TV-TV, koran-koran & radio-radio. Gak ketinggalan ibu-ibu ”gosipers” rame menganalisa masalah ini dimanapun, kapanpun dan ama siapapun, bahkan sama abang tukang sayur, abang tukang bakso, dan abang-abang yang di mobil kijang (lho......... kok jadi iklan). Saya pun gak kalah rame begitu mendengar isu ini, apalagi anak saya yang sekarang usianya 9 bulan, demen banget ngenyot susu formula (soalnya yang asli dah gak bisa dikenyot sich....... hihi......). Tiap muncul berita itu di TV atau radio langsung saya pasang telinga lebar-lebar, berita di koran saya bolak-balik sampai lecek, saya pun mencari berita-berita dari internet mengenai masalah susu-menyusu ini.
Masalah ini emang agak rawan mengingat yang jadi obyeknya adalah buah hati kita yang masih bayi dan balita. Dan sepertinya pemerintah belum menyikapinya dengan serius. Sampai sekarang belum ada pernyataan resmi dari pemerintah lewat Badan POM tentang merk-merk susu apa aja yang tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii itu, bahkan belum juga dilakukan penarikan produk susu formula yang ditengarai tercemar bakteri, dari pasaran. Malah kalo analisis saya (ya maaf ya kalo gak sepaham, namanya juga analisis amatiran....) sepertinya pemerintah meragukan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti dari IPB tersebut. Lewat TV-TV, pemerintah cuma memberikan solusi untuk setidaknya mengurangi kemungkinan tumbuhnya bakteri dalam susu, yaitu dengan cara:
- Bakteri dapat bertahan hidup di suhu 60oC, jadi pergunakan air yang sudah dimasak di suhu lebih dari 70oC untuk membuat susu.
- Sterilkan peralatan-peralatan yang digunakan untuk bayi atau balita, seperti dot susu, tempat makan, sendok, dll.
- Buat susu hanya untuk keperluan satu kali minum habis. Jarak antara pembuatan atau penyiapan dengan pemberian susu ke bayi jangan terlalu lama.
- Berikan ASI Eksklusif untuk buah hati kita sampai usia 2 tahun atau setidaknya sampai usia 4 bulan.
Nha solusi yang terakhir ini yang bikin saya agak pusing, lalu bagaimana nasib ibu-ibu yang bukan dikarenakan kemauannya tidak bisa memberikan ASI-nya, boro-boro eksklusif, ada baby yang dari lahir gak bisa ngerasaian enaknya ngenyot susu asli. Trus gimana dengan mereka? Pastilah mereka sangat tergantung dengan susu formula. Masak iya sich, kita harus back to basic, pake air tajin dan gula merah.
Kalo udah gini, dipikir-pikir lebih baik balik ke jaman dulu aja ya, gak ada mall adanya cuma pasar tradisional tapi harga cabai merah keriting gak semahal sekarang, jaman dulu gak ada susu formula, bayi dan balita minum air tajin dan gula merah bisa tumbuh sehat sesehat bapak dan ibu saya yang udah 60 tahun. Bukan mengecilkan kegunaan air tajin (sebenarnya air tajin banyak juga lho manfaatnya……. Kapan-kapan kita bahas khusus mengenai air tajin), tapi apa iya kita harus balik lagi ke belakang, padahal harusnya kita maju terus ke depan.
Pemerintah, ayo dong…….. redakan gejolak hati kami para ibu yang resah karena masalah susu ini. Kasihan anak-anak yang tak berdosa, generasi penerus bangsa...........
Kamis, 28 Februari 2008
KaReNA BaKtEri sEtiTik, RuSaK SusU ForMuLa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar